Sejarah Bulan Sya'ban

Pendahuluan

Bulan Sya’ban merupakan bulan dan musim yang penuh rahmat. Sya’ban disebut juga dengan Lailatul Mubarokah, hal ini disebabkan karena banyaknya kebaikan didalamnya. Pada bulan ini sangat dianjurkan meningkatkan ketaatan, pada bulan ini merupakan keberhasilan bagi para pedang yang mengharapkankeuntungan akhirat. Barang siapa yang mempergunakan bulan Sya’ban dengan sebaik-baiknya maka termasuk orang yang sangat beruntung.

Kenapa Dinamakan Sya’ban :
Beberapa Ulama’ berpendapat bahwa Sya’ban berasal dari “ Assi’bu” yang berarti Jalan Di gunung yang berarti jalan kebaikan.dan dikatakan juga, bahwa Sya’ban berasal dari “ Assa’bu “ yang berarti Al-Jabar ( memaksa ), karena Allah memaksa memecahkan hati pada bulan Sya’ban. Dikatakan juga, Sya’ban karena banyaknya kebaikan yang Allah turunkan pada bulan ini.
Pada bulan ini banyak kaum muslimin benar-benar mempersiapkan diri untuk meyambut bulan Sya’ban dengan bertaubat, ibadah, dan taat kepada Allah SWT serta banyak beramal sholeh serta menghidupkan hati dengan dzikir bersama kepada Allah swt. Bahkan ahli Makkah pada bulan Sya’ban memperbanyak Umrah serta towaf sunnah bahkan meyempatkan diri berziarah ke-Rosulullah (Madinah Al Munawarrah ).
Banyaknya barokah serta rahmat pada bulan Sya’ban menjadikan semangat baru bagi kaum muslimin untuk memperbanyak ibadah kepada Allah swt. Disisi lain pada bulan ini memang banyak sekali peristiwa yang sangat penting dan bersejarah untuk direnungi dan di jadikan teladan bagi kita semua. Jika kita lihat sejarah kebelakang, ternyata bulan Sya’ban mempunyai makna historis yang sangat tinggi, hal ini terlihat dalam literatur islam serta sejarah dan hadist sehingga wajar sekali jika kaum muslimin menjadikan bulan Sya’ban sebagai bulan mulia setelah bulan Romadhan, bahkan dalam hadist nabi Sya’ban mempunyai sejarah yang berhubungan dengan turunya ayat qur’an sertaAsbabun Nujulnya. Adapun ayat yang turun pada bulan Sya’ban sbb:
1. Perpindahan Kiblat.

Sebelum Ka’bah menjadi kiblat sholat, Masjidil Aqso (Al Quds) dipalestina telah lama menjadi kiblat kaum muslimin pada masa Rosulullah SAW dan para sahabatnya, Baitul Muqoddas sudah menjadi kiblat sholat selama kurang lebih tujuh belas bulan lebih tiga hari, ini diterangkan oleh Abu Hatim Al Bisti RA. Setelah sekian lama Rosulullah tinggal di Madinah, maka turunlah wahyu yang memerintahkan nabi untuk merubah kiblatnya. Perintah langsung untuk merubah kiblat diterangkan dalam surat Al Baqarah ayat 144 yang artinya “ Sungguh kami sering melihat mukamu menengadah kelangait, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkalah mukamu kearhnya. Dan sesunguhnya orang-orang ( Yahudi, Nasrani) yang diberi Al kitab ( taurat dan Injil ) mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram benar dari tuhanya: dan Allah sekali-kalitidak lenggah dari apa yang mereka kerjakan.” 
Ayat ini menegasakan tentang perubahan kiblat dari Baitul Muqoddas ke Masjidil Haram. Adapun waktu perubahan itu ketika Rosulullah SAW sedang gelisah menunggu wahyu dari Allah SWT, kadang kala beliau ( Rosulullah ) menegadahkan wajah kelanggit sampai pada suatu hari ketika sholat dhuhur berjama’ah maka turunlah ayat ini, sehingga dengan seketika Rosulullah merubah kiblatnya ke Makkah Al Mukarramah ( Masjidil Haram). Adapun tempat ( turunya wahyu ketika sholat berjama’ah dhuhur dinamakan Masjid Qiblatain ( masjid dua kiblat) Terjadinya perubahan kiblat itu tepat pada hari selasa Nisfi Sya’ban.
2. Diangkatnya Amal Perbuatan.
Dari beberapa keistimewaan bulan Sya’ban yaitu diangkatnya amal manusia kelanggit, hal ini dijelaskan pada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid yang telah mengatakan” Saya mengatakan “ Ya Rosulullah..!Saya tidak perna melihat panjenengan siyam ( puasa) pada bulan dari bebnerapa bulan seperti apa yang sedang dilakukan pada bulan Sya’ban. Rosulullah berkata “ Itu adalah bulan yang ditutup manusia dari bulan itu antara bulan Rajab dan Romadhan, dia adalah bulan yang diangkat pada bulan itu amal-amal disisi Tuhan semesta Alam, dan saya menyukai amalku diangat ketika aku berpuasa “ ( HR.Nasai ). Namun beberapa Ulama’ melihat hadist ini bukan kekhususan diangkatnya amal pada bulan sya’ban namun banyak waktu-waktu tertentu yang menunjukan diangkatnya amal pada waktu yang berbeda. Namun tidak bisa dinafikan kalau bulan Sya’ban memang waktu diangkatnya amal kelanggit.
Dalam hadist lain juga dijelaskan tentang diangkatnya amal manusia kelanggit, diantaranya hadist yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam kiatab shohihnya “Malaikat malam dan malaikat siang pada waktu sholat Fajar dan sholat Asar, maka mereka berkumpul pada sholat fajar, maka malaikat siang naik kelanggit, dan malaikat malam menginap. Maka Allah SWT menanyakan pada mereka : bagimana keadaan hambaku ketika kalian tinggalkan? Maka mereka menjawab ( Malaikat ) : “ kami datangi mereka sedang melaksanakan sholat, dan kami tingglakan, mereka sedang melaksanakan sholat maka ampunilah mereka dihari kiamat ( hari pembalasan ).
Hadist ini sebagai penegasan bahwa Allah memang memberikan tugas terhadap dua kelompok malaikat yang bertugas untuk selalu mengiguti semua aktivitaskita sehari hari, bahkan setiap pagi dan sore mereka meloporkan hasil pantaunserta catatan aktuak dan kemudian melaporkan pada Allah SWT. Diangkatnya amal perbuatan kita, juga ada yang bersifat harian, ada juga yang bersifatmingguan dan ada pula yang bersifat bulalan dan tahunan, dan ada juga yang bersifat sepanjang zaman Dibawah ini merupakan penjelasan sederhana tentang sifat-sifat diatas :
Sepanjang Zaman : Allah SWT memiliki dua utusan yang selalu setia mendampingi manusia serta mencatat semua kegitan kita selama 24 jam. Kedua utusan tersebut ditugasakan meyertai manusia dari bayi sampai dikuburkan, keduanya bernama Atid dan Rokib. Kedua malaikat itu bertugas sesuai dengan perintah-NYA dalam mencatat semua amal perbuatan manusia. Sedangkan Hasil catatan lembaran-lembaran itu akan diterima kelak serta dipertanggung jawabkan disisi Allah SWT.
Mingguan : Dalam suatu hadist nabi disebutkan, ketika nabi sedang berpuasa hari senin dan kamis, para sahabat pada bertanya perihal puasa tersebut, Rosulullah SAW menjawab bahwa hari senin merupakan hari kelahiranya, beliau merayakan hari kelahiranya dengan berpuasa. Sedangkan puasa hari kamis, Rosul juga menjelaskan bahwa setiap kamis amal perbuatan manusia diangkat kelanggit disisi Allah, Nabi menyukai ketika amalnya diangkat beliau sedang berpuasa. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, beliau mengatakan “, Rosulullah SAW bersabda “ akan diperlihatkan amal-amal setiap hari kamis dan senin, maka Allah Azza Wajalla mengampuni bagi tiap-tiap orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu ( syirik ) kecuali seseorang yang sedang saling tidak menyapa ( satru ). Maka dikatakan “ tinggalkan kedua orang ini sampai keduanya berdamai ( baikan ) ( H.R muslim ).

Dan dari Abu Hurairah RA, dari Rosulullah SAW bersabda “ Akan diperlihatkan amal perbuatan dihari senin dan kamis, maka saya senang ketika amalkudiperlihatkan saya dalam keadaan berpuasa ( H.R Tirmidzi ).
Diangkatnya Amal secara langsung :
Dalam keterangan hadist lain dijelaskan pula tentang diangkatnya secara langsung setiap hari menjelang waktu dhuhur. Setiap hari Allah SWT membuka langgitnya bagi orang-orang yang beramal soleh hal ini isaratkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud :” Ketika Rosulullah SAW turunpadaku ( ketika hijrah kemadinah )- saya melihat Rosulullah SAW selalu sholat empat rakaat sebelum dhuhur dan mengatakan “ Sesungguhnya- ketika matahari sedang condong ( waktu dhuhur / zawal ), maka dubukalah pintu-pintu langit, maka tidak akan ditutup langgit itu sehingga sholat dhuhur , saya senang kalau pada waktu ini amalku ( amal sholeh ) diangkat kelanggit. 

Tahunan : Diangkatnya amal perbuatan manusia ada juga yang bersifat tahunan, hal ini bertepatan pada bulan Sya’ban ( Nisfu Sya’ban ). Pada malam ini ( Nisfi Sya’ban ) semua amal perbuatan manusia selama satu tahun penuh angkat keatas langit disisi Allah SWT, hal ini telah disinyalir pada sebuah hadistyang diriwayatkan istri Rosulullah SAW ( Siti Aisah ) bahwasanya Nabi SAW berpuasa Sya’ban sepenuhnya, maka beliau ( siti Aisah berkata” Saya mengatakan “ Ya Rosulullah ! bulan yang paling disukai panjenengan ( Rosulullah ) untuk berpuasa Sya’ban ! ?Maka Rosulullah SAW menjawab “Sesungguhnya Allah mencatat pada bulan ini tiap-tiap maut seseorang, makasaya senang ketika ajalku datang saya dalam keadaan berpuasa “ ( HR. Abu Ya’la). Oleh karena itu Rosulullah SAW pada bulan Sya”ban memperbanyak berpuasa, bahkan hampir sebulan penuh karena pada bulan itu Allah SWT megangkat semua amal manusia dan membuka catatan baru untuk setahun kemudian. Bahkan pada hadist lain diriwayatkan, sesungguhnya Rosulullah SAW mengabarkan “ Yang paling ia cintai baginya adalah bulan Say’ban “ HR Imam Ahmad.
Nama-Nama bulan Sya’ban
<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Sahrul Sholawat
Bulan Sya’ban juga disebut juga dengan bulan Sholawat, pengetian ini diambil dari salah satu ayat Al Qur’an yang turun dan memerintahkan untuk memperbanyak membaca sholawat yaitu surat Al Ahzab ayat 56 yang berbunyi “ Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersholawat pada nabi ( nabi Muhammad, Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah padanya( Nabi Muhammad ) dan ucapkanlah penghormatan padanya”. ( Al Ahzab 56 )
Penegasan ini juga disampaikan oleh Imam Sihabudin Al Qostolani dalam kitabnya Al-Mawahib, karena ayat ini diturunkan bertepatan dengan bulanSya’ban.
<!–[if !supportLists]–>· <!–[endif]–>Syahrul Kur’an
Dalam beberapa kteranganlain, Sya’ban disebut juga dengan Sahrul Qur’an, penegasan ini disampaikan oleh Habib bin Tsabit. Seorang Ulama besar yang bernama Syeh Ahamd bin Hajaji mengatakan “ Sungguh ulama’ ulama SalafiAssolih meyambut bulan Sya’ban dengan membaca Al qur’an “. Hal ini dikemukan dalam kitab Tuhfatul Ihwan. Walaupun membaca Al qur’an memang sangat dianjurkan kapan saja, dan dimna saja, namun karena bulan Sya’ban penuh dengan kemulyaan dan barokah, maka para ulama’ kembali menginggatkan dan mengajurkan agar kita senantiasa memperbanyak membaca Al Qur’an dan berdzikir agar menjadi pemacu untuk persiapkan meyambut bulan yang paling mulia yaitu Romadlhon. Hal ini juga menjadi hujjah bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan kedua yang paling mulya setelah bulan Romadhan, penegasan ini isaratkan dalam hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Anas RA, “ ( Sya’ban adalah bulanku (bulanya kanjeng Nabi) dan Romadlhon adalah bulan Allah, dan Sy’aban mutohhir ( menyucikan ) dan Romadhlon Mukaffir ( penghapus)’ ( H.R Adailami ). Jelas sekali bahwasanya beribadah dibulan Sy’aban merupakan pesiapan untuk meyambut bulan romadhan, menginggat hadist diatas menyebutkan kedua bulan tersebut dalam satu hadist. Adapun yang dimaksud Mutohhair yaitu dimana pada bulan ini moment yang tepat untuk mensucikan diri dari kesalahan serta dosa-dosa yang melekat pada diri manusia dengan cara meningkatkan ibadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedangkan yang dimaksud Mukaffair ( penghapus ) adalah dimana pada bulan ini juga menjadi moment bagi kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalm kebaikan dengan berpuasa romadhon dan pada malamnya melaksakan qiyamul lail kemudian dengan memperbanyak membaca Alqur’an sehingga semua bentuk amal ibadah bisa dilaksakan dengan sebaik-baiknya, jika bisa mempergunakan Romadhon semaksimal mungkin, maka semua dosa kecil maupun besar akan Mukaffar ( terhapus )sehingga manusia kembali suci tanpa noda dan dosa, seolah-olah baru dilahirkan dari rahim ibunya.
Keitimewaan seseuatu bisa dilihat dari jumlah nama yang ada, dalam literatur arab islam, apabila sesuatu mempuyai keitimewaan, biasanya mempuyai lebih dari tiga nama bahkan sampi lima, begitu pula dengan Sya’ban. setiap mingga mempuyai keistimewaan malam puncak tepatnya hari jum’at ( Sayyidul Ayyam ). Dalam hitungan dua belas bulan juga memiliki keistimewaan yaitu Romadhan, kemudian yang kedua yaitu Sya’ban dan Rajab. Dalam bulan itu sendiri juga ada keitimewaan yang kita kenal dengan malam puncak, pada bulan romadhan puncaknya pada sepuluh terahir, oleh karena itu pada sepuluh terahir ini kaum muslimin berbondong-bondong kemasjid dengan memperbanyak ibadah serta beramal, mereka berlomba-lomba bersedekah,umrah dengan harapan mendapat kebaikan berlipat ganda. Karena pada sepuluh terahir ini akan datang malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam itu dinamakan malam LAILTUL QODAR. Dalam bulan Sya’ban juga mempuyai malam puncak yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban, malam ini disebut dengan Lailatu Nisfi Sy’aban.
Ada apa dengan Nisfi Say’ban ?
Lailatu Nisfi Sy’aban mempuyai nama yang sangat banyak, serta mempuyai fadilah dan keistimewaan yang luar biasa setelah Lailatul Qodar. Dibawah ini Nama-nama Nisfi Sya’ban bersrta Fadilah dan tendensinya :
Lailtul Mubarokah : Malam ini diambil dari surat Al Duhon ayat 3 “ didalam Malam yang penuh Barokah “ Para Ahli tafsir banyak berpendapat, yang dimaksud malam penuh barokah yaitu malam Nisfi say’ban, ini dijelasakan olehIkrmah seorang Ulama’ tafsir, dan ada beberapa Ulama’ yang berpendapat bahwa Lailatul Mubarokah itu adalah Lailatul Qodar, hal ini dikemukakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali, ini diambil dari kebaikan yang ada pada malam itu, atau karena mendekatnya para malaikat kepada kaum muslimin pada malam itu.
Lailatul Qismah ( Malam Pembagian ), pada malam itu adalah malam pembagian rijki yang telah ditentukan Allah SWT, karena pada malam itu semua amal dalam setahun dari Sya’ban ke-Sya’ban diperbarui lagi.
Lailatul Takfir ( Malam penghapus ) yang dimaksud Takfir adalah ( penghapus), jadi malam Nisfi Sya’ban juga disebut dengan malam penghapus, karena pada malam ini Allah Akan menghapusdosa-dosa anak adam bagi yang memohon ampunan ( Istigfar). Dalam litertaur islam kita mengenal, bahwa hari Jum’at merupakan hari paling mulia dan kesempatan mengahapus dosa jum’at sebelumnya, begitu pula malam Nisfi Sya’ban juga menhgapus dosa setahun sebelumnya.
Lailatul Ijabah : ( Malam Penerimaan ), malam ini termasuk malam penuh dengan romat, magfiroh, ampunan serta penerimaan semua permintaan baru ( permohonon do’a). Barang siapa yang mempergunakan malam Nisfi Sya’ban sungguh-sungguh dengan munajat kepada Allah maka Allah akan menepati janjinya, hal ini dijelaskan dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bin Khottab berkata “Ada lima malam yang tidak akan ditolak suatu do’a pada malam itu ; Malam jum’at, dan awalnya malam bulan rojab, dan malam Nisfi Sya’ban, dan malam Lailatul Qodar, dan malam kedua hari raya ( Idul Fitri dan Idul Adha).
Lailatul hayat / Lailatul Iedul Malaikat. ( malam kehidupan /Malam hari rayanya pa malaikat. Sesungguhnya para Malaikat juga mempuyai hari raya, seperti halnya manusia dimuka bumi yang merayakan Iedul Fitri dan Iedul Adha namun hari raya mereka ( malaikat ) jatuh pada bulan Sya’ban tepatnya pada malam Nisfi Sya’ban dan Lailatul Qodar, pada malam itu para malaikat merayakan hari raya. Hal ini dijelaskan dalam kitab “ UyunulMajalisi “ yang dikarang oleh ulama besar yang bernama “ Abu Abdullah Tohir bin Muhammad bin Ahmad Al Haddadi.
Lailatul Safaah : ( Malam Safaah), yang memberikan nama ini adalah Syeh Abu Mansur Muhammad bin Abdullah Al Hakim Al Nisaburi.Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Nisfi Sya’ban ?
Berpuasa pada bulan Sya’ban serta meyambut dan merayakan dengan bedzikir bersama,membaca yasin bersama menjadi polemik bagi kaum muslimin dari dulu sampai sekarang ini, sebagian melarang secara mutlaq, sebgian lagi membolehkan, sebagian lagi membid’ahkan, oleh karena itu kita perlu membaca pendapat para ulama tentang Sya’ban ( Nisfi Say’ban ) dibawah ini :
Pertama : Seorang Kholifah besar dari bani Umayyah Umar bin Abdul Aziz telah menulis pada penngawalnya ( pegawainya) di-Basrah “ Wajib bagi kalian untuk memperhatikan empat malam dari setahun ; Sesunggunya Allah SWTmenurunkan rohmat pada malam tersebut, Awalnya malam bulan Rajab, malam Nisfi Say’ban, dan malam Iedul Fitri, dan Iedul Adha. Adapan Imam Syafi’I seorang mujtahid dibidang Fiqih dan hadist mengatakan “ Sesungguhnya do’a itu akan dikabulkan dalam lima beberapa malam; Malam jum’at, Iedul Fitri dan Iedul Adha, awal bulan Rojab, dan Nisfi Sya’ban”.
Kedua :Diriwayatkan dari Ka’ab “ Sesungguhnya Allah ta’ala menggutus Malaikat Jibril pada malam Nisfi Sya’ban kesurga untuk memerintahnya berhiasdan mengatakan “ Sesungguhnya Allah taala telah membebaskan pada malam ini jumlah bintang-bintang dilanggit, dan sejumlah hari-hari didunia dan malamnya, dan sejumlah dedaunan dan pepohonan dan beratnya gunung-gunung dan sejulah pasir-pasir”
Ketiga : Imam Sayid bin Mansur juga meriwayatkan “ Tidak ada Malam selainmalam Lailutul Qodar lebih utama kecuali Malam Nisfi Sya’ban, Allah SWT turun dari langit ( menurun kan Romat dan Magfirah ) maka Allah memberikan ampunan bagi semua hambnya, kecuali bagi orang-orang musrik, orang yang saling membenci ( satru) dan orang yang memutus tali persaudaraan.
Keempat :Ibnu Taimiyah berpendapat : Sungguh banyak riwayat hadist dan Atsar yang meyebutkan tentang keutamaan dan keitimewaan bulan Sya’ban, dan dinukil dari sebagian orang-orang salaf, sesungguhnya mereka melaksanakan pada malam itu ( Nisfi Sya’ban ) kalu sholat sendirian pada malam Nisfi Say’ban sudah dilkukan oleh masing-masing.
Adapun sholat secara brjama’ah dalam di Nisfi Sya’ban memang dibangun pada dasar yang kokoh secara berkelompok dengan tujuan taat kepada Allah dan beribadah itu ada dua bagian :
Bagian pertama : Sunnah Ratibah “ adakalanya Wajib, Sunnah, seperti sholat lima waktu, sholat Jum’at, Iedul Fitri dan Iedul Adha Sholat Tarowaih, Sholat Istisqo’ Sholat gernana, ini semua memang perlu dijaga dan dilestarikan.Bagian kedua : Bukan Sunnah Rotibah :seperti berkumpul untuk melaksanakn sholat sunnah tatowwuk seperti Qiyamul Lail, atau membaca Al Qur’an, Atau dzikir kepada Allah SWT, atau do’a bersama hal ini tidak apa-apa ketika tidak menjadikan kegitan wajib, karena terkadang Nabi melaksanakan sholat tatowwuk dengan berjama’ah namun tidak mewajibkan, kecuali yang telah ia sebutkan,dan para sahabat nabi ketika berkumpul, kdangkala diperintahkan dari salah satu mereka untuk membacakan Al Qur’an dan yang lain mendengarkanya.
Dari beberapa penjelasan serta pendapat diatas bisa disimpulkan, bahwa Nisfi Sy’ban memang malam yang penuh dengan rohmat dan barokah shingga wajar sekali jika kaum muslimin memanfaatkan moment tersebut untuk berlomba-lomba dalam kebaikan serta memperbanyak ibadah serta memohon ampunan dengan dzikir bersama, do’a bersama, sholat tatowu’ bersama serta membaca surat yasin bersama. Sebagian orang memang meyakini seolah-olah mewajibkan dan tuntunan syariat dan Sunnah nabi hal ini menjadikan kegiatan tersebut menjadi bid’ah yang menjadi polemic. Sebagian lagi memang memanfaatkan moment Nisfi Sya’ban tersebut dengan sebaik-baiknya dengan meningkatkan ibadah kepada Allah maka akan mendapat Lailatul Muborokah, itu tidak apa-apasehingga tidak jatuh pada Bid’ah Madmumah . malahan ini yang dianjurkan ulama.

19.37 | Posted in | Read More »

Hikayat Isro Mi'raj (versi Sunda)

Kisah Isro Mi’raj

Dina hiji waktos Nabi Muhammad SAW. aya di Hijir Ismail caket Baitulloh nuju kulem dihapit ku Jafar sareng Hamzah,sumping dua malaikat nyaeta Jibril sareng Mikail. Eta dua malaikat nyandak kangjeng Nabi kahiji sumur Zam-Zam bade ngabersihkeun sareng ngajembarkeun manahna. Malaikat minuhan kana manahna kangjeng Nabi ku hilimna, ilmuna,ka yakinanna, sareng kaislamanna.
Teras malaikat ngecap/maparin tanda ku kanabian tegesna pangkat kanabian. Saparantosna kitu disumpingkeun Buroq anu diselaan tur dikadalian.
Ari Buroq teh eta tutunggangan anu bodas, jangkung, anu saluhureun Himar sahandapeun Bighal. Dimana ngalangkung luhureun gunung maka ngaluhuran dua suku pengkerna, dimana turun maka ngaluhuran dua suku payunna.
Buroq ngaraos isin ku kangjeng Nabi . Kangjeng Nabi nunggang Buroq diapit ku malaikat Jibril ti palih katuhuna,malaikat Mikail ti palih kencana.
Dina hiji tempat Jibril miwarang lungsur ka kangjeng Nabi, miwarang sholat, malaikat Jibrik naros ka kangjeng Nabi, “ Naha uninga gamparan, dimana nembe salira sholat teh ?.” Kangjeng Nabi ngawaler: “Teu terang.” Saur malaikat : “Tah eta teh Tanah Thoyyibah.”tanah jaga dianggo Hijrah. Sholat anu kadua di Tanah Madian caket tangkal kayuna Nabi Musa. Sholat anu katiluna di Gunung Tursina,tempat waktos ngada’wuh Alloh ka Nabi Musa.Sholat anu kaopat di Nagara Syam, di Bethlehem, tempat dibabarkeunna Nabi Isa putra Mariyam.
Diantara perjalanan kangjeng Nabi pajonghok jeung Ifrit ti golongan jin. Ifrit datang bari mawa obor, maka kangjeng Nabi teras ningali eta jin ari malaikat nyaram bari ngawurukan hiji do’a anu matak mareumkeun kana obor jeung ngajungkelkeun kana sungutna eta ifrit.
Bari derengdeng Malaikat ngaoskeun kana doana :
Saparantos ngadoa, maka nyuksruk ifrit kana sungutna jeung jadi peureum oborna.
Rosululloh angkat deui sumping ka hiji kaum; anu mana eta kaum the
Pepelakan dina hiji dinten panen dina dinten eta oge.
Kangjeng Nabi Naroskeun :”Hai Jibril ieu the naon maksadna?”
Jibril ngawaler :” Ieu the kaum anu sok merangan ka Kafir dina ngaluhurkeun agama Alloh. Pahalana ditikel-tikel, kasaean sahiji dibales kalawan 700 tikelan.”
Saterasna Kangjeng Nabi ngambe seuseungitan , seungitna anu matak kaseungreum, anteub anu teu acan pernah mendakan.
Rosululloh tumaros ka Jibril :”Jibril, seungit naon ari ieu ?”
Jibril ngawaler :” Eta, seungitna Siti Masyitoh”.
Siti Masyitoh eta pembantuna Firaun . Dina hiji waktos , Masyithoh nyisiran budakna Firaun anu awewe. Ari sisirna murag. Masyithoh nyarios :”Bismillah , cilaka tur rugi firaun.” Anakna firaun ngareungeukeun maka manehna nyarita :”Naha tetep ka anjeun aya pangeran salian ti bapa kaula?” Masyithoh ngawaler :”Sumuhun.” Anakna firaun nyarita deui :”Naha nyaritakeun kuring kana omongan anjeun ka Bapa kaula.” Masyithoh ngawaler :”Mangga.” Anakna firaun nyaritakeun ka bapana. Maka ngagero firaun ka Siti Masyithoh. Firaun nya :” Naha eta tetep ka anjeun ari aya pangeran salian ti kaula?” Masyithoh ngawaler :”Sumuhun, Pangeran abdi jeung Pangeran anjeun , Alloh.” Firaun wera, tuluy nitah bala tentarana sangkan putra-putrana jeung salakina Masyithoh didatangkeun kahareupeun manehna . Masyithoh,Carogena sareung para putrana ku firaun dipaksa sangkan ngaku, yen firaun pangeranna. Tapi sadayana oge mumpang kana kahayang firaun. Maka ngomong firaun:”Hai Masyithoh, ku aing dipaehan kabehannana.” Masyithoh ngawaler :”Mangga, abdi mah ikhlash, sing bade dipaehan oge ,dari pada kaula sadaya kudu ngaku anjeun jadi pangeran kaula.”
Firaun beuki nafsu. Manehna marentahkeun ka pangawalna supaya mawa ketel gee tina tambaga pikeun ngagebruskeun Masyithoh jeung anak salakina kana wadah anu aya cai ngagolak.
Putra Masyithoh anu pang alitna, anu masih keneh enen nyarios :”Ibu…,ulah salempang ibu… , saleresna ibu aya dina jalan anu haq.”
Ngadenge kitu, teu antaparah deui firaun ngajewang anakna Masyithoh ngagebruskeun kana eta wadah . Anu pada akhirna mah kabeh digebruskeun kana eta wadah.
Dina perjalananna Rosululloh mendakan mendakan hiji kaum anu mepeskeun sirahna. Dimana sirahna pecah, maka nyambung deui. Dipeupeuskeun deui, nyambung deui.
Rosululloh helok, teas naroskeun ka Malaikat Jibril:”Hai Jibril atuh saha eta kaum?”
Jibril ngawaler :”Ieu kaum nyaeta kaum anu ngarasa beurat migawe sholat fardlu.”
*Dina perjalananna Rosululloh mendakan kaum anu ngadaharan daging atah, anu buruk, anu geuleuh tur bau. Padahal daging anu masih keneh seger, anu asak, anu enak, anu pedo eta nyampak, tapi eta daging kalakah diantep, teu didalahar.
Kangjeng Nabi heraneun ,nya naroskeun ka Malaikat Jibril :”Hai Jibril, kaum naon eta?”
Jibril ngawaler :”Eta , kaum anu ongkoh masing-masing boga pamajikan anu geulis, anu alus, anu halal ari kaluar ti imah bet hayang awewe anu haram, anu can dipihukum, anu acan dikawin.”
*Dina perjalanna Rosululloh mendakan jalma anu ngeureutan letah jeung biwirna ku gunting beusi anu seukeut. Dimana beres ngaguntinganna , maka balik deui kana kaayaan asalna. Kitu jeung kitu wae eta kalakuan jalma.
Rosululloh kaget, teras naroskeun ka Malaikat Jibril :”Hai, Jibril pertanda naon eta kalakuan?”
Jibril ngawaler :”Eta kaum, nyaeta anu sok mitnah , loba ngomong bari manehna oge tara migawe kana eta omongannana, ongkoh apal tapi tara dipigawe.”
*Kangjeng Nabi dina aktos Isrona mendakan jalma anu kukuna panjang heuras lir tambaga , pagaweanna nyakaran kana beungeut jeung dadana.
Kangjeng Nabi naros ka Malaikat Jibril. Malaikat Jibril ngawaler :”Eta gambaran,nyaeta anu ngagambarkeun jalma anu sok nibakeun kawirangan.”
*Rosululloh dina waktos Isrona mendakan hiji liang anu alit. Tina eta liang kslusr hiji sapi, ari sapi the asup deui kana eta liang, ari pek teu bisa kaluar deui.
Malaikat ngajelaskeun yen eta gambaran , nyaeta gambaran jalma nau sok ngomong anu matak pohara ngaruksakna, tuluy nalangsa alatan eta omongan, eta jalma teu bisaeun ngabalikeun deui kana naon anu diomongkeunna.
*Dina Isrona Kangjeng Nabi ngadangu anu ngagero di belah katuhu jeung ti belah kenca. Sora anu datang ti belah katuhu :”Hai Muhammad kudu nungguan anjeun ka kaula, aek nanyakeun kaula ka anjeun.”
Rosululloh heunteu ngawaro. Teras anjeunna naroskeun ka Malaikat Jibril . Malaikat jibril ngawaler :”Eta panggero, nyaeta panggero Yahudi, lamun ku anjeun diwaro, maka umat anjeun bakal loba anu jadi Yahudi.”
Sora anu datang di belah kenca:”Hai Muhammad kudu ngadagoan anjeun, arek nanyakeun kaula ka anjeun.” Maka Kangjeung Nabi heunteu ngawaro .Rosululloh teras naroskeun . Malaikat Jibril ngawaler:”Ari eta mah panggero Nashrani, lamun anjeun ngawaro, tangtu umat anjeun jadi nashroni.”
Dina Isrona Kangjeng Nabi SAW pendak sareng aki-aki anu ngagero ka Kangjeng Nabi :”Kadieu heula, hai Muhammad!”
Jibril nyarios ka Rosululloh SAW :”Ulah diparire, teras wae angkat, hai Muhammad!”.
Rosululloh tumaros :”Saha eta aki-aki teh?”
Jibril ngawaler :”Aki-aki eta misilna musuh Alloh tegesna, Iblis, anu mikahayang anjeun condong kana iblis.”
Teras angkat Rosululloh, ari kitu di jajalaneun pendak sareng nini-nini.
Ngomong eta nini-nini :”Hai Muhammad, kudu nungguan anjeun ka kaula,arek nanyakeun kaula ka anjeun.”
Rosululloh heunteu ngalieuk ka eta nini-nini. Rosululloh naroskeun ka Jibril . Jibril ngawaler :”Eta nini-nini ngagambarkeun , yen umur dunya parantos kolot.”
Rosululloh neraskeun perjalananna, teu karaos parantos dugi deui ka hiji nagara anu disebut Baitul Maqdis.Rosululloh lungsur tina Buroq, bade sholat sunnah dua rokaat kalawan berjamaah sareng para Nabi sarta para Malaikat anu turun ti langit.Saparantos awe salammlaikat Jibril naros ka Kangjeng Nabi :”Ya Muhammad, naha anjeun terang ka jalma anu sholat dipengkeren anjeun?.”
Kangjeng Nabi ngawaler :”Kaula henteu terang.”
Jibril ngauningakeun :”Ari anu sholat pengkereun anjeun, eta para Rosul, anu parantos ngutus Alloh ka aranjeunna.”
Ari sadayana puji eta kagungan Alloh anu parantos ngutus ka kaula karena welas kasadayana alam sareng ka sadaya jalma-jalma kalawan ngabubungah sareng ngawawadian.
Parantos nurunkeun Alloh ka kaula Al Qur an , anu tetep dina Al Qur an ari penjelasan sadaya perkara.
Parantos ngajantenkeun Alloh ka umat kaula kana pang sae-sae ummat pikeun sadaya jalma, ummat petengahan, ummat anu ngawian tur anu panuntungan.
Parantos ngajembarkeun Alloh kana hate kaula, ngalongsongkeun Alloh kana kaberat kaula sareng parantos ngaluhurken Alloh kana sesebutan kaula.
Nabi Ibrohim ngadawuh:”Ieu puji parantos munjulkeun Muhammad ka aranjeun sareng tumerap eta perkara ka Kanjeng Nabi tina dahaga anu banget.”
Saterasna sumping malaikat Jibril ka Kangjengg Nabi bari nyandak wadah, aya anu diaeusian ku susu, cai sareng arak.Rosululloh milih wadah anu dipinuhan ku susu. Jibril nyarios ka Kangjeng Nabi :”Parantos milih anjeun kana ciri agama Islam. Upami anjeun milih kana arak tanwande ummat anjeun bangkawarah sareng nurut ka anjeun.iwal saeutik. Upami anjeunmilih kana cai, tanwande ummat anjun bakal kakerem .
Tina kencana Rosululloh aya Bidadari. Rosululloh uluk salam ka Bidadari.
Anu saterasna mah Rosululloh naek kana hji taraje. Dina eta taraje aya hambalan anu ditaretes perak, emas, sareng mutiara anu disumpingkeun ti surga Firdaus. Kenca sareng katuhuna taraje aya malaikat. Rosululloh sareng malaikat Jibril naek dugika hiji lawang tina lawang langit dunya.
Saur sapalihna kaol , panto langit dunya tehtina emas,tulakna tina pirang-pirang nur, koncina tina Ismul a”dhom. Ari lawang langit dunya namina Hafadhah. Anu ngajaga eta lawang nyaeta malaikat Ismail. Calik eta malaikat dina awang-awang. Heunteu naek ka langit heunteu turun ka bumi. Anu ngarencangan malaikat Ismail aya 70,000 malaikat. Tiap-tiap eta malaikat direncangan 70,000 bala tentara.
Di payuneun lawang panto langit dunya, malaikat Jibril nyuhunkeun dipangmukakeun lawang eta panto.
“Saha eta anu menta muka?” aya suara ti luhur.
“Kaula, Jibril.” Jibril ngawaler
Jibril ditaros deui :”Saha anu bareng jeung anjeun?”
“Ari anu bareng jeung kaula eta Muhammad”. Jibril ngajelaskeun.
“Naha Muhammad diutus ka lawang langit?” saur anu naros.
“Sumuhun” jawab Jibril.
“Pendak kabagjaan kaula kana kajembaran Muhammad sareng ahlina. Mugi ngarahmat Alloh ka Muhammad . Muhammad pang sae-saena anu sumping. Bagja , ya Rosululloh, mangga lebet ! “ saur penjaga lawang langit.
Rosululloh SAW sareng malaikat Jibril lebet . Di lebet pendak sareng Nabi Adam.
Ari Nabi Adam eta nabi anu janten bapana sadaya manusa. Dina waktos Alloh ngadamel rupina nabi Adam, diasongkeun ka nabi Adam ruh-ruhna para nabi sareng anak incuna anu mu’min sareng anu kafir.
Eta para nabi sareng anak incunna anu mu’min nyarios:”Ari ruh anu sae sareng nyawa anu sae eta payus aya dina surga ‘iIliyyin.”
Anu kafir nyarita :”Ari ruh-ruh jeung nyawa anu goreng pantes lamun nyicingan di naraka Sijjin.”
Aya dua golongan ,anu kenca sareng katuhu. Golongan kenca kaluar ti lawang angin anu ngahiliwir bau, anjeunna nangis jeungnalangsa. Golongan anu katuhu kaluar ti lawang anu seungit, Nabi Adam gumujeng kalayan kabungahan. Sing horeng, lawang anu katuhu the eta surga, ari lawang anu kenca eta naraka.
Kangjeng Nabi Muhammad SAW waktos harita diuningakeun kana sapalihna kaayaan naraka.
Diantawisna gamabaran akibata jalma anu ngadahar riba, anu ngadahar harta anak yatim, anu ngalakukeun zinah.
Saparantos kitu, Nabi Mhammad SAW angkat ka langit kadua.
Di payuneun lawang panto langit kadua, malaikat Jibril nyuhunkeun dipangmukakeun lawang eta panto.
“Saha eta anu menta muka?” aya suara ti luhur.
“Kaula, Jibril.” Jibril ngawaler
Jibril ditaros deui :”Saha anu bareng jeung anjeun?”
“Ari anu bareng jeung kaula eta Muhammad”. Jibril ngajelaskeun.
“Naha Muhammad diutus ka lawang langit?” saur anu naros.
“Sumuhun” jawab Jibril.
Maka dibukakeun lawang panto langit kadua.
“Pendak kabagjaan kaula kana kajembaran Muhammad sareng ahlina. Mugi ngarahmat Alloh ka Muhammad . Muhammad pang sae-saena anu sumping. Bagja , ya Rosululloh, mangga lebet ! “ saur penjaga lawang langit.
Di langit kadua Rosululloh pendak sareng Nabi Isa putra Maryam sareng Nabi Yahya putra Nabi Zakariya, anu sami dina anggoanna,sarupi dina rambutna. Nabi Isa pangadeganna pertengahan, rupina semu beureum campur bodas anu heunteu galih rambutna.
Kangjeng Nabi uluk salam , Nabi Isa sareng Nabi Yahya ngawaler uluk salamna Kangjeng Nabi.
“Bagea temen pendak sareng Nabi anu sholeh, wargi anu sholeh.” Saur Nabi Isa sareng Nabi Yahya.
Saterasna Kangjeng Nabi unggah ka langit anu katilu.
payuneun lawang panto langit katilu, malaikat Jibril nyuhunkeun dipangmukakeun lawang eta panto.
“Saha eta anu menta muka?” aya suara ti luhur.
“Kaula, Jibril.” Jibril ngawaler
Jibril ditaros deui :”Saha anu bareng jeung anjeun?”
“Ari anu bareng jeung kaula eta Muhammad”. Jibril ngajelaskeun.
“Naha Muhammad diutus ka lawang langit?” saur anu naros.
“Sumuhun” jawab Jibril.
Maka dibukakeun lawang panto langit katilu.
“Pendak kabagjaan kaula kana kajembaran Muhammad sareng ahlina. Mugi ngarahmat Alloh ka Muhammad . Muhammad pang sae-saena anu sumping. Bagja , ya Rosululloh, mangga lebet ! “ saur penjaga langit katilu.
Saparantos lebet Kangjeng Nabi pendak sareng Nabi Yusuf.
“Bagea teuing tiasa pendak sareng wargi anu sholeh, Nabi anu sholeh.”
Nabi Yusuf ngado’akeun kalayan kasaean.
Kangjeng Nabi sareng malaikat Jibril teras nek ka langit ka opat.
Di payuneun lawang panto langit kaopat, malaikat Jibril nyuhunkeun dipangmukakeun lawang eta panto.
“Saha eta anu menta muka?” aya suara ti luhur.
“Kaula, Jibril.” Jibril ngawaler
Jibril ditaros deui :”Saha anu bareng jeung anjeun?”
“Ari anu bareng jeung kaula eta Muhammad”. Jibril ngajelaskeun.
“Naha Muhammad diutus ka lawang langit?” saur anu naros.
“Sumuhun” jawab Jibril.
Maka dibukakeun lawang panto langit kaopat.
“Pendak kabagjaan kaula kana kajembaran Muhammad sareng ahlina. Mugi ngarahmat Alloh ka Muhammad . Muhammad pang sae-saena anu sumping. Bagja , ya Rosululloh, mangga lebet ! “ saur penjaga lawang langit.
Di langit ka opat Kangjeng Nabi pendak sareng Nabi Idris.
Kangjeng Nabi uluk salam , Nabi Idris ngawaler uluk salamna Kangjeng Nabi.
Nabi Idris ngadawuh :“Bagea teuing tiasa pendak sareng wargi anu sholeh, Nabi anu sholeh.”
Nabi Idris AS ngado’akeun kalayan kasaean.
Teras Rosululloh angkat ka langit ka lima.
Sakumaha anu parantos Malaikat Jibril ditaros ku penjaga. Malaikat Jibril ngawaler sagala rupi anu ditaroskeun. Penjaga ngaraos bingah kana kasumpingan Rosululloh.
Di langit ka lima Kangjeng Nabi pendak sareng Nabi Harun. Nabi Harun gaduh janggot, sapalihna bodas sapalihna deui hideung. Eta janggot ngambay dugi ka udel.
Kangjeng Nabi uluk salam , Nabi Harun putra Imron ngawaler uluk salamna Kangjeng Nabi.
Nabi Idris ngadawuh :“Bagea teuing tiasa pendak sareng wargi anu sholeh,Nabi anu sholeh.”
Teras Kangjeng Nabi angkat deui naek ka langit ka genep.
Sakumaha anu parantos Malaikat Jibril ditaros ku penjaga. Malaikat Jibril ngawaler sagala rupi anu ditaroskeun. Penjaga ngaraos bingah kana kasumpingan Rosululloh.
Maka dibukakeun lawang panto langit ka genep.
Di langit ka genep Kangjeng Nabi pendak sareng Nabi Musa sareng golongan ummat Nabi Muhammad SAW anu seueurna aya 70,000 anu bakal lebet surga tanpa dihisab.
Rosululloh ningali Nabi Musa waktos harita, rambutna gomplok, pangadeganna jangkung.
Nabi Musa ngadawuh : “Ari Kalolobaan jelema nyangka yen Nabi Musa anu pang mulyana turunan anak incu Adam, padahal ari anu pangmulyanamah mungguh Alloh nyaeta Muhammad.”
Nabi Musa nangis. Nabi Musa ditaros :” Naon margina anjeun bet nangis?”
Nabi Musa ngawaler:”Kuring ceurik lantaran eta, singhoreng umat Nabi Muhammad leuwih loba anu asup surga tibatan umat kaula, anu padahal kaulamah leuwih tiheula diutus ku Alloh.”
Nabi Muhammad naek ka langit ka tujuh.
Sakumaha anu parantos Malaikat Jibril ditaros ku penjaga. Malaikat Jibril ngawaler sagala rupi anu ditaroskeun. Penjaga ngaraos bingah kana kasumpingan Rosululloh.
Di langit katujuh Rosululloh pendak sareng Nabi Ibrohim,anu calik dinakorsi emas caket lawang surga.
Nabi Ibrohim ngadawuh :” Kudu marentah anjeun ka umat anjeun kana ngalobakeun tina pepelakan di surga.”
“Naon ari pepelakan di surga teh?” Kangjeng Nabi naros.
Nabi Musa ngawaler :”Nyaeta maca LAHAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL’ALIYYIL ADHIIM jeung SUBHANALLOH WALHAMDULILLAAH WALAA ILAAHA ILLALLOHU WALLOOHU AKBAR.
Nabi Muhammad sholat berjama’ah sareng kaum mu’minin anu aya di Baitul Makmur.
Ari Baitul Makmur eta pas diluhureun Ka’bah,lamun dipuragkeun batu ti Baitul Makdis maka tangtu murag eta batu ka Ka’bah.
Di Baitul Makmur Nabi Muhammad SAW. dipiwarang milih tilu wadah maka Nabi Muhammad nyandak wadah anu dipinuhan ku susu, maka Jibril ngalereskeun. Ari eta teh janten ciri agama Islam anu tetep dina Islam sarta ummat Muhammad.
Teras Rosululloh diangkatkeun ka Sidrotul Muntaha. Kangjeung Nabi dipaparin uninga gambaran surga sareng naraka.
Di lawang surga Rosululloh SAW. ningali tulisan anu unina kieu :”ASHSHODAQOTU BI’ASYARI AMTSAALIHAA WALQORDLU BITSAMAANIYATA ‘ASYARO.”
“Ari Shodaqoh eta dibales kalawan sapuluh pirang-pirang misilna shodaqoh, jeung ari ngahutangkeun eta kalawan dalapan belas balenan.”
“Ya Jibril ,kunaon margina ngahutangkeun, langkung sae tibatan shodaqoh ?.Rosululloh naros ka Jibril. “Karena satemena ari anu menta halna tetep dina hiji perkara,saenyana ari jalma anu ngahutangkeun mah eta moal ngahutang eta jalma anging tina eukeur butuh.”
Teras mapah Kangjeng Nabi, ari pek mendakan Kangjeng Nabi kana pirang-pirang wahangan tina susu anu henteu barobah rasana eta susu,sareng pirang-pirang wahangan tina arak,wahangan tina madu anu dibersihkeun.
Rosululloh mendakan pirang-pirang kubah tina mutiara,aya dalima saperti kulit onta anu dijejelan, aya manuk surga anu ageungna sapertos onta. Manuk onta raosna langkung-langking daging onta.
Rosululloh mendakan walungan Kautsar,digigireun eta walungan aya kubah tina mutiara anu dibolongan ari taneuhnamah eta tina misik anu kacida seungitna.
Kangjeung Nabi dipaparin uninga sapalih kaayaan naraka.
Dina eta naraka tetep bebendu Alloh, cegahan Alloh sareng siksaan Alloh. Lamun dialungkeun kana eta naraka batu jeung beusi maka tangtu ngadahar eta naraka kana eta batu jeung beusi.
Dina naraka aya kaum anu ngadaharan kana bangke.
“Saha eta kaum ya Jibril ?”Kangjeng Nabi naroskeun ka Jibril.
Jibril ngawaler “Ari ieu kaum,eta jalma-jalma, eta jalma anu ngadahar dagingna jalma tegesna tukang ngupat (ngomongkeun batur).
Rosululloh ningali ka malaikat Malik juru konci naraka ari eta malaikat salamina cemberut kacida bendu dina pameunteuna.Kangjeng Nabi uluk salam ka malaikat Malik. Malaikat gura-giru nutupkeun lawang naraka kumargi kasumpinganna Rosululloh. Anu salajengna enggal-enggal diapungkeun ka Sidrotul Muntaha teras ka Mustawan.
Di Mustawan Rosululloh ngupingkeun geretna suara kalam. Nabi ningali hiji pameget. “Saha eta, naha eta teh malaikat ?”. saur Nabi.
“Sanes” waler Jibril
“Naha Nabi?”. Nabi naroskeun deui
“Sanes” Jawab Jibril.
“Saha atuh ?”. Nabi panasaran.
“Ieu Rojul teh,eta anu didunyana salamina baseh lisanna alatan dikir ka Alloh, manahna cumantel ka Masjid sopan santun ka ibu ramana.”Jibril ngajelaskeun ka Rosululloh.
Rosululloh sujud ka Alloh Anu Maha Suci.
Alloh ngadawuh :”Ya, Muhammad!”
Rosululloh ngawaler :”Netepan abdi ka Gusti, ya Robbi.”
Alloh ngadawuh :”Pek barang penta anjeun ka kaula.”
Maka nyarios Kangjeng Nabi :
”Saestuna Gusti parantos ngadamel ka Nabi Ibrohim janten Kakasih Gusti,
parantos ngadawuh Gusti ka Nabi Musa kalayan ngadawuh temenan, parantos maparin Gusti ka Nabi Daud kana karajaan anu pohara ageungna, parantos ngaleleskeun Gusti ka Nabi Daud kana beusi, parantos nalukkeun Gusti ka Nabi Daud kana pirang-pirang gunung, parantos maparin Gusti ka Nabi Sulaiman kana karajaan anu pohara ageungna anu heunteu misti pikeun hiji jalma,parantos nalukkeun Gusti ka Nabi Sulaiman kana jin, manusa, sareng pirang-pirang syaithan . parantos meruhkeun Gusti ka Nabi Sulaiman kana angin.,
parantos maparin Gusti ka Nabi Isa kana kitab Tauret sareng Injil
parantos ngajantenkeun Gusti ka Nabi Isa ngawaraskeun kana lolong, sareng corob, parantos ngahirupkeun Nabi Isa ka pirang-pirang umat kalayan idzin Gusti, parantos ngaraksa Gusti ka Nabi Isa sareng ka ibuna.”
Maka ngadawuh Alloh SWT.”Yakin nyata ngadawuh Kaula anu Agung ka anjeun jadi kakasih.”
Parantos nyarios Rowi :”Ari kangjeng Nabi eta parantos dituliskeun dina Toret, halna janten kakasih Alloh. Ngutus Kaula anu Agung ka anjeun Muhammad ka jalma-jalma sakabehna halna ngabubungah sareng ngawawadian. Parantos ngajembarkeun kaula ka anjeun, kana hate anjeun jeung ngalongsongkeun kaula anu Agung ti anjeun kana kabeubeurat anjeun, jeung ngaluhurkeun Kaula anu Agung Ka anjeun Muhammad kana sesebutan anjeun. Teu pati-pati disebut ngaran Kaula anu Agung anging disebut ngaran anjeun. Jeung ngajadikeun kaula anu Agung ka ummat anjeun kana pang alusna ummat anu dikaluarkeun eta ummat mangfa’at keur jalma-jalma. Jeng ngajadikeun Kaula anu Agung ka ummat anjeun kana ummat anu pertengahan.Jeung ngajadikeun kaula ka ummat anjeun jadi ummat anu awal jeung nu akhir. Jeng ngajadikeun kaula ka ummat anjeun kana pirang-pirang kaom anu hatena eta ummat eta pirang-pirang wadah ilmuna kaom.
Geus ngajadikeun Kaula Anu Agung ka ummat anjeun, ummat anu pangheulana jadi Nabi, anu pangheulana di utus, anu pang heulana dihukuman.
Geus mikeun Kaula Anu Agung ka anjeun tujuh ayat tina Surat Al Fatihah,heunteu mikeun Kaula Anu Agung ka hiji nabi oge samemeh anjeun.
Geus mikeun Kaula Anu Agung ka anjeun Talaga Kautsar.
Geus mikeun Kaula Anu Agung ka anjeun dalapan bagian :
1. Islam
2. Hijrah
3. Jihad
4. Bener
5. Shaum Ramadlan
6. Amar Ma’ruf
7. Nahi Munkar
8. Sholat.
Kaula Anu Agung dina poean ngadamel Kaula kana langit sareng bumi eta ngafardlukeun Kaula ka anjeun Muhammad jeung ka ummat najeun Muhammad 50 sholat, maka kudu ngalaksanakeun anjeun jeung ummat anjeun kana kawajiban sholat anu 50.
Saterasna ,aya mega anu ngahalangan mayungan ka Kangjeng Nabi, panangan Nabi dicepeng ku malaikat Jibril, maka Kangjeng Nabi enggal mulihnyumpingan ka Nabi Ibrohim. Nabi Ibrohim heunteu nyarios.
Kangjeng Nabi angkat nyumpingan ka Nabi Musa . Nabi Musa ngadawuh :” Kana naon midamel anjeun ,ya Muhammad! Parantos mardlukeun naon Pangeran najeun ka anjeun jeung ka ummat anjeun?”
Kangjeng Nabi ngawaler :”Parantos mardlukeun Alloh ka kaula jeung ummat kaula kana 50 sholat fardlu dina sadinten sawengi.”
Nyarios Nabi Musa :”Kudu balik deui anjeun ka Pangeran anjeun , menta karinganan tina eta sholat, saestuna ummat anjeun eta moal kawasa kana 50 sholat. Saenyana kaula geus nyoba-nyoba ka jalma-jalma anu samemeh anjeun, geus nyoba kaula ka Bani Israil kalawan usaha anu satekah polah, sing horeng Bani Israil pada ninggalkeun heunteu migawe kana eta sholat, anu padahal bilanganna leuwih saeutik . Ari ummat anjeun eta leuwih lemah awakna, badanna, hatena , paningalna, jeung pangrunguna lamun dibandingkeun jeung Bani Israil.”
Kangjeng Nabi ngareret ka Malaikat Jibril, Malaikat Jibril nyaluyuan kana usul Nabi Musa.
“Lamun karep anjeun kudu balik deui ka Alloh, maka balik deui wae.”saur Jibril.
Maka Kangjeng Nabi enggal-enggal angkat deui nyumpingan Alloh.
“Ya Alloh, pangeran abdi, mugi Gusti maparin karingan ti ummat, satemenna ummat abdi ea anu pang lemah-lemahna pirang-pirang ummat.”Rosululloh ngadu’a ka Alloh.
Alloh ngadawuh :” Ngurangan Kaula Anu Agung kana lima shalat.”
Nabi Muhammad mulih deui ka Nabi Musa. Ari Nabi Musa miwarang deui Kangjeng Nabi supados nyuhunkeun karingan ka Alloh.
Kitu sareng kitu wae, Nabi Muhammad uwah-uwih diantara Nabi Musa sareng Pangeran, sehingga ngirangan Pangeran ti Nabi Muhammad kana lima sholat kana lima sholat.
Alloh ngadawuh :”Ya Muhammad ! Ari shalat eta lima pirang-pirang shalat dina tiap-tiap poe jeung peutingna. Ari sakur-sakur hiji shalat eta sapuluh tikel. Maka ari eta lima shalat eta lima puluh sholat. Moal digantikeun ucapan mungguh Kaula Anu Agung, jeung moal disalin deui tulisan Kaula Anu Agung.
Saha-saha jalma anu neja kana kaalusan, tuluy heunteu migawe eta jalma kana kaalusan, maka dituliskeun keur eta jalma hiji kaalusan.
Lamun migawe eta jalma kana kaalusan , maka dituliskeun eta kaalusan sapuluh balenan.
Saha-saha jalma anu neja kana kagorengan,, tuluy heunteu migawe kana eta kagorengan, maka moal dituliskeun eta kagorengan.
Lamun migawe kana eta kagorengan , maka dituliskeun eta kagorengan sahiji.
Kangjeng Nabi angkat deui ka Nabi Musa.
Nabi Musa ngadawuh :”Kudu balik deui anjeun ka Pangeran anjeun! Kudu menta anjeun ka Pangeran anjeun kana karinganan. Saestuna ummat anjeun eta moal kuateun kana lima shalat.”
Ngadawuh Rosululloh :” Temen parantos bulak-balik kaula ka Pangeran kaula, sehingga ngaraos isin kaula ka Pangeran kaula. Tatapina ridlo kaula Pasrah kaula.”
Ngadawuh Nabi Musa :”Ya Muhammad, mangga ayeuna geura turun kalayan dibarengan ku Bismillaah.
Rosululloh lungsur ka langit dunya kalayan dibageakeun ku para Malaikat. Malaikat bingah tiasa tepang sareung Rosululloh. Malaikat anu pendak nyanggakeun uluk salam ka Rosululloh..
Rosululloh ti langit ningali ka handapna dunya, ari pek anjeunna ningal aya haseup anu seueur sareng ngadangu pirang-pirang soara.
Kangjeng Nabi naros ka Malaikat Jibril : “Ya Jibril,naon ari eta haseup?”
Jibril ngawaler :”Ari ieu haseup eta pirang-pirang syaithan anu ngahalangan kana pirang-pirang paningal anak adam anu heunteu tafakur kana pirang-pirang kaanehan langit sareng bumi. Lamun teu duhalangan ku syaithan tangtu tafakur pirang-pirang anak adam kana kaaehan langit sareng bumi.
Dina perjalanan mulihna ,Rosululloh ningal aya aleutan onta Quraisy anu warna warni.
Rosululloh sumping ka Mekah sateuacan Shubuh, anjeunna mendakan pirang-pirang shahabat .
Enjing-enjingna, dina waktos Rosululloh nuju calik, Abu jahal nyamperkeun ka Rosululloh.
Abu Jahal ngomong ka Kangjeng Nabi SAW halna ngaguguyonkeun :”Naha geus papanggih jeung hiji perkara?”
Rosululloh ngawaler :”Sumuhun”.
“Ari naon eta perkara?” Ceuk Abu Jahal.
Kangjeng Nabi ngawaler :”Dileumpangkeun kaula dina waktu peuting”.
Abu Jahal nanyakeun deui :”Nepi kamana?”
“Kaula leumpang nepika Baitul Maqdis”. Rosululloh ngajelaskeun.
Abu jahal tuluy nempas :”Tuluy isuk-isuk anjeun Muhammad eta geus aya hadir diantara kaula kabeh.”
“Sumuhun” waler Rosululloh.
Maka heunteu nekadkeun Abu Jahal , saenyana Abu Jahal eta ngabohongkeun ka Kangjeng Nabi. Abu Jahal nampik kana cariosan Rosululloh.
Abu Jahal ngomong : “Hai Muhammad, kumaha lamun kuring ngundang kaum anjeun, naha anjeun wani nyaritakeun ka kaum anjeun, kana naon-naon anu geus dicaritakeun ka kaula.”
Ngadawuh Kangjeng Nabi : “Mangga”.
Abu Jahal ngagero : “Hai golongan Bani Ka’ab, putra Luay, coba kadieu anjeun!”
Maka jalma-jalma anu aya harita, anu keur darariuk gancang ngadatangan panggero Abu Jahal.
Diantara eta anu hadir aya anu emprak, aya oge anu nyekelan leungen kana sirahna eta jalma halna kaget. Aya oge anu sorak ngarasa pohara eta kaum kana dawuhan Rosululloh.
Muth’im bin ‘Ady ngomong :”Kaula nyaksian yen anjeun Muhammad eta anu bohong. Ari ka Baitul Maqdis eta nanjak mudun, lamun make onta oge make lalakon sabulan dina nanjak, lalakon sabulan dina mudun. Ari anjeun datang ka Baitul Maqdis dina lalakon sapeuting . Demi lata jeung uza kaula heunteu percaya ka anjeun.”
Abu Bakar nyarios :”Hai Muth’im , eta kalakuan pang goreng-gorengna, anjeun ngabohongkeun anjeun ka anak dulur anjeun, ari kaula eta nyaksiam , kana saenyana putyra dulur anjeun tegesna Muhammad eta anu bener.”
Tuluy nanya eta kaum :”Hai Muhammad ,kudu nyipatan anjeun ka kaula sadaya kana Masjid Baitul Maqdis, kumaha adegannana, kumaha deketna ti gunung, sabaraha pantona, jeung sajabana.”
Nabi Muhammad ngawitan mah ngaraos helok, kedah nerangkeun Baitul Maqdis halna terperinci, anu padahal anjeunna heunteu nelek-nelek kana kasifatan eta Baitul Maqdis. Tapi sanaos kitu, Kangjeng Nabi ngadua ka Alloh mugia dipaparinan tiasa ngajelaskeun ka eta kaum ngenaan Baitul Maqdis.
Teu lami ti harita ,jleg Baitul Maqdis aya disimpen dina arah-arah handapeun bumna ‘Uquaul bin Abu Tholib, sehingga eta Masjid katingali ku Rosululloh.
Kuayana kitu, Rosululloh tiasa milang sabaraha pantona, tiasa mere terang ka kaum kalayan kumplit.
Abu Bakar Nyarios :”Leres Gusti. Leres Gusti. Kaula nyaksian kana saenyana anjeun eta utusan Alloh.”
Nyarita kaum ka Abu Bakar :”Naha ngabenarkeun (ngandel) anjeun ka Rosululloh kana saenyana Rosul eta leumpang dina waktu peuting ka Baitul Maqdis jeung datang samemeh shubuh?”
Ngajawab Abu Bakar :”Kantenan, saenyana kaula yaqin , ngandeu kaula ka Rosululloh, sanajan leuwih ti kitu oge.”
Kulantaran kitu Abu Bakar dijenenganan Ash-Shiddiq.

22.46 | Posted in | Read More »

Sejarah Islam

Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.
Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.
Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang.
Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka'bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta anaknya Ismail.
Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai "as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)" dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.
Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijriah.
Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.

[sunting] Islam di Indonesia

Islam telah dikenal di Indonesia pada abad pertama Hijaiyah atau 7 Masehi, meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu besar hanya melalui perdagangan dengan para pedagang muslim yang berlayar ke Indonesia untuk singgah untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam lebih intensif, khususnya di Semenanjung Melayu dan Nusantara, yang berlangsung beberapa abad kemudian. Salah satu bukti peninggalan Islam di Asia Tenggara adalah dua makam muslim dari akhir abad ke 16
Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain,
  • Sunan Ampel
  • Sunan Bonang
  • Sunan Muria
  • Sunan Gunung Jati
  • Sunan Kalijaga
  • Sunan Giri
  • Sunan Kudus
  • Sunan Drajat
  • Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
wikipedia

21.45 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added